Is He Ready? / Am I Ready?

Rasanya campur2, ketika memikirkan bagaimana jika aku harus meninggalkannya? Bukan kemana2 sebenarnya, hanya pergi beberapa jam saja. Dan merubah kebiasaan2nya dari yang hanya bisa dengan aku, jadi bisa juga dengan yang lain. Dari yang biasanya cuma berdua, jadi bersekian. Dari yang biasanya denganku, jadi dengan yang lain untuk beberapa jam saja.

Berat, tapi harus aku lakukan. Sebenarnya, ketakutankulah yang membuat semuanya tidak segera aku mulai. Dan lebih tepatnya ketakutan2ku lah yang membelenggu ku dan kaka tentunya. Yang akhirnya, membuat aku tidak pernah mau lagi mencoba.

Percaya, susah sekali aku menananamkan hal itu pada orang lain. Percaya pada orang lain untuk menjaganya, barang beberapa saat saja. Ya Allah, kenapa aku begitu susah, begitu berat, begitu egois, dan jadi sangat tidak realistis, ketika dihadapkan pada hal “mempercayakan” barang sebentar pada orang lain. Dengan suamiku sendiripun, kadang klo weekend dan aku tinggal mandi, Ya Allah, bisa cerewet setengah mati, “Ba, suapin jagung manis, jagung manisnya dibelah2 jadi 2, trus disisir, ditaruh di piring yang ini, maemnya ditemenin, awas jatuh2, bla bla bla..” padahal aku tinggal mandi cuma 10 menit, dan sebernya bisa kan nanti juga. Kadang, klo suamiku nonton, bisa2nya aku marah, cerewet banget, dan tiba2 aja aku pause, “lihat tuh, tembak2an.. ” padahal ga loh… cuma beberapa scene, dan ga sedramatis pikiranku.. Ya Allah, kapan aku bisa berhenti begini, dan mencoba lebih realistis.

Di satu sisi, ada banyak kesempatan menanti di sana, ada cita2 sedang menghampiri, ada banyak harapan menanti. Bukankah salah satunya harapan kaka akan ibunya? Bukankah kaka juga bangga jika ibunya mencapai cita2nya? Tanpa pernah mengabaikannya. Ya Allah, jadi sebenarnya aku lah yang harus ditanya lagi, am i ready?

Jika aku melihat beberapa orang di sana, melihat mereka rasanya mudah sekali, dan bahkan terlihat selalu mulus menjalani fase2 berpisah seperti ini, padahal ternyata ga lo, mereka juga pernah, dan mereka2 orang yang bisa keluar dari belenggu ini, dan apakah anaknya kenapa2? alhamdulillah, tidak.. Ya Allah, jadi semua masalah ada padaku?

Mungkin, jika aku mau sedikit mencoba, baru aku bisa merasakan bagaimana rasanya. Bukan hanya ketakutan, bukan hanya prasangka, bukan pula mereka-reka. Bismillah.. Jika memang berkah dan rejeki buatku, insyallah Allah akan selalu memberi jalan atas segala usahaku. amin2..

Kaka, ketika kamu nanti membaca ini di suatu masa, ibu harap kamu mengerti, kenapa ibu memilih jalan yang ini. Ibu harap kamu paham, kenapa beberapa hari ke depan setelah hari ini, kamu akan melewati fase2 kurang nyaman. Semoga kamu paham, bahwa ibu melakukan hal ini hanya untuk kamu, tanpa maksud mengabaikanmu. Hanya perlu pembiasaan sayang. Apapun keputusan Ibu nanti, Ibu tetap memprioritaskan kamu nak, ibu memilihnya juga demi kamu. Karena ibu selalu sayang padamu Kaka.. :*

5 thoughts on “Is He Ready? / Am I Ready?

  1. back to work wi ? dimana,selamat ya wlpun di sisi lain berat ninggalin kaka.Aku yakin smua keputusan udah dipikirkan matang2 dan ada solusi2 dari hal2 yg mungkin terjadi semcama resiko dan mitigasi (heh ??kaya pernah denger dimana yaaa…) mudah2an kaka mengerti wi, trus siapa yg jagain kaka ? smg bisa dipercaya ya

    • kurang lebihnya akan begitu din, semoga amin2, cuma masih beraattt, kemarin baca2 blog kamu, yg ur heart was broken when hear her crying hiks.. kamu bisa ya din, dari dulu aku ga bisa hiks, karena aku sendiri sebenernya. rencanaku nanti cari ART tapi tetep aku harus aku titipin ke daycare klo ga ada nenek/kakeknya. sekali lagi, ga tega :((..

  2. hmm…kadang karena kita sendiri yang secara ga sadar ga mau mereka lepas dari kita wi, takut klo mereka ga lagi tergantung penuh sama kita…bukan dalam permasalahan seperti dewi mungkin, tapi melepas si kakak dari ASI, melepas kakak sekolah hari pertama, melepas kakak les sendirian naek sepeda, ato kaya liburan kemaren, melepas kakak liburan di rumah eyangnya…beraaaaaatttt banget….tapi ya kayak dewi bilang di akhir tulisan tadi, sebenernya buat kebaikan mereka juga…jadi tetap semangat say!!!!

    • iya mba, berat ya, hanya kadang karena pikiran2 kita sendiri, jadinya semua jadi rumit. oiya, masalah nyapih pun,aku belum berani, entahlah, klo pun nanti keputusanku tetap back to work, siang2 masih bisa lah dia dislimur, malamnya mungkin bakal sepanjang malam sebagai pelampiasannya hiks..
      seperti membelenggu diri sendiri, ketakutan2 berlebihan, padahal anaknya ga papa juga, padhal kakak yusuf beneran kan bisa juga naik sepede sendiri ke IALF? beneran kan kak yusuf buktiin bisa nyampe rumah dengan selamat tanpa naik jemputan? ya kita harus lebih paham, bahwa anak kita itu mampu, agar kita juga mampu melepasnya, memandirikannya aminn…
      Makasih ummi..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s